Kamis, 07 Agustus 2014

Pendekar Cinta - Jilid 8

8. Jian-jiu-lo-sat (si hantu wanita bertangan seribu)

Sekembalinya ke kota raja, Lie Kun Liong langsung mencari pelesiran Bunga Merah. Cukup mudah baginya menemukan pelesiran itu karena termasuk pelesiran yng terkenal di kota raja. Malam itu walaupun sudah larut malam namun di pelesiran Bunga Merah malah semakin meriah.

Dengan ragu-ragu Lie Kun Liong berdiri di pintu masuk pelesiran itu, baru pertama kalinya ia datang ke tempat seperti ini.
Selagi belum tahu apa yang harus dilakukannya untuk bertemu dengan seorang wanita yang bernama Siau Erl, nampak mendatangi sebuah tandu yang digotong dua orang tukang berhenti di depan pintu pelesiran Bunga Merah. Lalu dari dalam tandu keluar seorang wanita muda berpakain hijau muda, wajahnya cukup cantik dan tercium aroma wangi melati dari tubuhnya yang langsing dan berisi. Melihat Lie Kun Liong berdiri di depan pintu masuk, ia sambil tertawa genit menyapa “Kong-cu mencari siapa ?”. Kebetulan bagi Lie Kun Liong, ia berkata “Aku datang ke sini untuk mencari orang yang bernama Siau Erl. Apakah nona bisa membantu ?”

Sambil tertawa dan menutup bibir delima merekah dengan tangannya dia berkata “Siau-moy inilah yang biasa dipanggil Siau Erl, ternyata kong-cu ingin membooking siau-moy. Mari masuk ke dalam kata Siau Erl sambil mengandeng tangan Lie Kun Liong. Dengan gembira karena tidak menyangka orang yang ia cari ternyata adalah wanita ini, Lie Kun Liong mengikutinya menuju kamar yang terletak di lantai dua rumah pelesiran itu. Sepanjang jalan menuju ke kamar Siau Erl ini ia mendengar suara desah dan lengguhan suara wanita mengundang birahi dari balik kamar yang ia lewati. Dengan muka merah dan hati berdegup-degup ia terus mengikuti Siau Erl.

Setiba di dalam kamar sambil terkikik kecil Siau Erl berkata “Tunggu sebentar ya kong-cu, siau-moy membersihkan tubuh dulu sebelum melayani kong-cu”. Dengan perasaan serba salah Lie Kun Liong hanya mengangguk lemah. Ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat.

Kamar itu sangat besar dan mewah, pasti Siau Erl ini merupakan primadona di rumah pelesiran ini. Dengan gerakan lemah gemulai Siau Erl berjalan menuju lemari pakaian yang berada di pojok ruangan, lalu dengan perlahan-lahan melepaskan pakaian yang dikenakannya.

Terlihat pundaknya yang putih mulus, leher yang jenjang dan pakaian dalam warna merah menyala, terpampang belahan buah dada membusung ketat di baliknya. Tanpa merasa malu Siau Erl mulai melepaskan pakaian dalamnya yang ketat dan segera tampak sepasang buah dada yang montok dihiasi puting susu yang kecil kecoklatan. Tubuhnya seperti layaknya gadis seusianya putih mulus dan segar bugar. Tiba-tiba ia melepaskan rok panjang yang dipakainya dan tampak pahanya yang mulus dan langsing, berpura-pura tidak tahu Siau Erl sambil tersenyum tipis memiringkan tubuhnya yang padat berisi sedikit menghadap Liok Kun Liong hingga terlihat jelas dihadapannya bagian inti seorang perempuan. Baru pertama kali ini ia melihat bagian paling inti milik seorang perempuan. Ia seperti berada di tengah hutan lebat dan jurang dalam.

Dengan tubuh tanpa sehelai benangpun, semua bagian tubuhnya sangat menakjubkan. Setiap lekuk tubuhnya mampu membangkitkan gairah setiap laki-laki. Siau Erl lalu berjalan memasuki kamar mandinya. Dari dalam kamar mandi terdengar suara air gemericik, begitu pelan, lamban dan samar. Muncul dari kamar mandi, tubuh Siau Erl harum, segar, terbebat kain diseputar buah dadanya, dengan bintik-bintik air di tengkuknya.
Sambil melepaskan kain yang dipakainya ke lantai, ia berbaring di sebuah kasur empuk dengan bersitekan pada sebelah sikunya dalam posisi menyamping, memperlihatkan seluruh tubuhnya. Ekspresi wajahnya segar dan bibirnya merah delima merekah dengan sorot mata mengundang yang sekan-akan menyiratkan bahwa tak ada persoalan apa pun dengan ketelanjangannya. Ia seperti melayang di atas kasur empuk, dengan perangai tubuh yang leluasa bergerak tanpa sehelai benang pun. Setiap lekuk tubuhnya menciptakan ruang eksistensinya sendiri sekaligus menjadi dirinya sendiri. Seluruh perangai ketelanjangan, ekspresi dan sorot matanya, membayangkan sebuah sikap merayu, memancing orang (lelaki) untuk menelan air liurnya.

Tubuh Lie Kun Liong tergetar, sambil menutup matanya ia menenangkan diri sepenuhnya dan berkata “Nona, aku datang ke sini atas permintaan seseorang dengan goresan di bagian bawah matanya sambil mengeluarkan seuntai kalung giok yang ia peroleh dari si Maling sakti”

Dengan kaget Siau Erl langsung bangkit dari kasurnya, mengambil kain dilantai untuk menutupi tubuhnya, lalu menghampiri Lie Kun Liong.
“Di mana Maling Sakti berada ?” tanya Siau Erl dengan suara mendesak.
“Dia telah mati di bokong oleh orang yang hendak ditemuinya di sebuah kelenteng rusak tidak jauh dari kota raja ini” sahut Lie Kun Liong.
Dengan wajah pucat Siau Erl mengambil kalung giok dari tangan Lie Kun Liong dan mengamatinya sambil mengeluarkan air mata.
“Apa hubungan nona dengan Maling Sakti ini” tanya Lie Kun Liong ingin tahu.
“Dia ayahku” jawab Siau Erl sambil menyusut air matanya.

Dengan wajah tercenggang Lie Kun Liong menatap wajah sedih Siau Erl, ia tidak menyangka si Maling Sakti memiliki seorang putri yang bekerja di rumah pelesiran ini.
“Engkau pasti heran kenapa Maling Sakti memiliki putri seperti aku bukan” tanya Siau Erl seolah-olah dapat membaca pikiran Lie Kun Liong.
Lie Kun Liong diam tak menjawab, ia tidak ingin membuat Siau Erl merasa tersinggung.
“Sebenarnya tidak banyak orang yang tahu bahwa rumah pelesiran ini merupakan milik ayahku. Dari sinilah ayahku bisa mendapat informasi yang berharga dari tamu-tamu yang datang dan melakukan aksinya. Tidak ada cara yang lebih ampuh untuk mendapatkan rahasia selain dengan wanita penghibur. Umumnya para tamu yang datang tidak curiga sama sekali kalau kami sedang mengorek-orek rahasia mereka, terlebih apabila mereka dicekoki arak hingga mabuk” kata Siau Erl.
“Lalu apa tujuan kalian hanya mencuri lukisan dari gudang pusaka istana” tanya Lie Kun Liong heran.
“Sebenarnya ayah mendapat order pesanan dari seorang angkatan tua kangouw untuk mencuri lukisan itu dengan bayaran yang sangat besar, cukup untuk tidak mencuri lagi selamanya. Kalung giok ini adalah salah satu bukti pembayaran darinya” kata Siau Erl.
“Apakah kalian tahu apa yang di cari orang itu dari lukisan yang kalian curi ?” tanya Lie Kun Liong.
“Tidak tahu, cuma memang ayah merasakan hal ini sangat aneh hingga untuk berjaga-jaga ia telah mempersiapkan segala sesuatu dengan membuat tiruan lukisan itu sedangkan yang asli aku simpan” kata Siau Erl sambil berjalan menuju lemari pakaian yang ada dipojok ruangan dan membukanya. Tampak bagian dalam lemari itu sama seperti lemari biasa namun ternyata dengan menekan suatu alat tertentu di balik lemari itu ada ruangan yang tersembunyi.

Siau Erl masuk ke ruangan tersembunyi itu dan tidak beberapa lama kemudian ia keluar sambil membawa sebuah gulungan kain dan menaruhnya di atas meja bundar di tengah kamar serta membukanya lebar-lebar. Ternyata gulungan kain itu adalah lukisan yang di curi si Maling Sakti, melukiskan pemandangan pada musim rontok, di mana bulan terang, angin bertiup sepoi-sepoi sehingga udara dan sungai tampak bersih sekali. Sebuah maha karya lukis yang mengagumkan sehingga tidak heran termasuk barang pusaka istana.

Setelah mengamati lukisan itu sekian lama, lapat-lapat Lie Kun Liong merasa pernah melihat gambar lukisan itu tapi entah di mana ia pernah melihatnya.
“Siapakah angkatan tua yang telah memberi tugas mencuri lukisan ini ?” tanya Lie Kun Liong.
“Ayah tidak sempat memberitahu karena ia terburu-buru hendak menyerahkan lukisan ini ke orang itu. Yang pasti orang itu mempunyai kedudukan yang tinggi di dunia persilatan sehingga ayah pun tak kuasa menolak permintaannya” kata Siau Erl.
“Apakah orang itu tahu kediaman Maling Sakti di sini ?”tanya Lie Kun Liong.
“Tidak seorang pun yang tahu” jawab Siau Erl yakin.
“Sebaiknya nona menyingkirkan diri dari sini, siapa tahu orang itu memiliki mata-mata dan mendapat tahu kediaman Maling Sakti di sini. Apalagi bila ia mendapat tahu lukisan yang diserahkan ayahmu itu palsu” saran Lie Kun Liong.
“Baiklah, Siau Erl pasti mendengarkan saran Lie-ko” jawabnya sambil tersenyum manis mengoda.
“Kalau begitu aku pergi dulu” kata Lie Kun Liong seolah-olah tidak melihat senyuman yang membuat hatinya berdebar-debar.

Sambil termangu Siau Erl memandang kepergian Lie Kun Liong, entah mengapa baru kali ini ia mempercayai seorang lelaki dan menceritakan semua rahasia mereka kepada orang luar. Hanya satu yang tidak ia berani ia beritahukan yaitu julukannya Jian-jiu-lo-sat (si hantu wanita bertangan seribu).
Next : Pendekar Cinta - Jilid 9

Pendekar cinta - Jilid 7

7. Pencuri di Istana

Nanking adalah ibu kota kerajaan dan dikenal sebagai pusat ilmu, kebudayaan, kesenian sejak dahulu dan merupakan salah satu kota terpenting di Tiongkok dan menjadi ibu kota sepuluh dinasti atau kerajaan. Juga dikenal sebagai "Ibu kota Surga". Telah menjadi pusat kerajaan dan ekonomi bagi daerah delta sungai Yangtze selama beratus-ratus tahun. Nanking juga adalah penghubung pengangkutan di bagian timur Tiongkok dan kawasan muara sungai Yangtze.
Memasuki gerbang kota Nanking, Lie Kun Liong memandang sekeliling kota dengan terkagum-kagum. Belum pernah ia melihat kota yang seramai ini dan makmur. Di kiri kanan sepanjang jalan terdapat warung makan kecil sampai yang besar dan penginapan-penginapan kelas satu. Tercium wangi masakan dari warung-makan besar membuat perutnnya berontak minta diisi.

Ia mengajak Bai Mu An memasuki salah satu warung makan yang terbesar. Suasana warung makan itu ramai sekali, para pelayan hilir mudik membawa masakan-masakan yang membuat air liur menetes, semua masakan disajikan panas-panas langsung dari dapur. Mereka memesan tumis sayur, burung dara goreng nanking yang terkenal, dua botol arak dan empat mangkok nasi putih yang masih panas mengepul. Dengan lahap mereka menyantap masakan yang dihidangkan dan ludes dalam sekejap.

Di sebelah mereka duduk sekawanan pemuda dengan pakaian yang mewah, kelihatan mereka berasal daridari keluarga terpandang atau anak pejabat pemerintahan. Mereka sedang membicarakan kejadian dua hari yang lalu di warung makan ini.

“Ciu-heng apa benar gadis itu cantik jelita” tanya pemuda berbaju putih kepada kawannya yang bertubuh gendut.
“Benar toako, gadis itu baru tiba ke kota ini dan sedang makan di pojokan meja sebelah sana sendirian sewaktu rombongan tuan muda Pai datang dan mencoba mengoda gadis itu” jawab pemuda bertubuh gendut. Seperti yang toako ketahui, pengawal tuan muda Pai sangat lihai tapi cukup dengan sebatang sumpitnya, gadis itu membuat kedua pengawal Pai kongcu takluk. Kalau tidak percaya coba toako lihat lobang bekas lemparan sumpit gadis itu di dinding sebelah sana. Memang benar di dinding tersebut terdapat dua lobang kecil seukuran sumpit. Dengan meleltkan lidahnya pemuda berbaju putih itu bertanya “Sungguh lihai sekali gadis itu, apa yang terjadi kemudian ?”.

“Dengan sebatang sumpitnya si gadis itu melayani kedua pengawal Pai kongcu dengan seenaknya bahkan kedua telapak tangan pengawal itu berlobang tertembus sumpit yang dilemparkan gadis itu lalu menembus dinding di sana. Tenaga gadis itu hebat sekali” kata pemuda gendut itu.
“Bagaimana potongan gadis itu” tanya pemuda yang lain.
“Wajahnya cantik mempesona bagaikan putri istana, tingginya sedang dan tubuhnya langsing, kulitnya putih dan halus, jari-jari dan alis matanya lentik sekali. Sungguh jarang aku melihat gadis secantik itu” kata pemuda gendut itu kesengsem.

Mendengar pembicaraan para pemuda itu, Bai Mu An berkata pada Lie Kun Liong “Rasanya yang mereka bicarakan adalah kawan yang aku lag cari, ciri-cirinya mirip”
“Siapa nama gadis yang Bai-heng hendak cari” tanya Lie Kun Liong
“Dia bernama Liok In Hong dan julukannya Sian Li Kiam (Dewi Pedang)” jawab Bai Mu An.
“Sian Li Kiam yang terkenal itu, ternyata Bai-heng kenal dengannya” kata Lie Kun Liong. Dengan hati berdebar-debar Lie Kun Liong merasa curigai jangan-jangan Liok Han Ki yang ia kenal merupakan penyaruan dari Liok In Hong si Dewi Pedang.
“Keluarga aku dengan keluarganya punya sedikit hubungan persahabatan tapi aku baru-baru ini saja mengenalnya” kata Bai Mu An dengan wajah luar biasa.

Setelah urusan mengisi perut selesai, mereka lalu mencari penginapan yang bersih untuk membersihkan badan dan memulihkan tenaga.
Di sore harinya mereka berkeliling di sekitar kota raja untuk menyerapi kabar Sian Li Kiam namun bukan berita tentang Liok In Hong yang mereka dengar tapi berita tentang berhasil dimasukinya gudang pusaka istana raja oleh maling yang lihai. Kejadiannya berlangsung tadi malam.

Para wie-su (perwira kerajaan) yang berjaga tiada seorangpun yang menyadari gudang pusaka istana telah kemalingan, baru pada keesokan harinya kejadian yang menghebohkan itu ketahuan. Semua orang tahu bahwa istana raja di jaga sangat ketat, ibaratnya burung pun tidak leluasa untuk terbang di atas istana apalagi manusia. Namun si maling itu berhasil memasuki gudang pusaka dengan melewati penjagaan dari pasukan Gie-lim-kun (pasukan penjaga istana) dan Kim-mie-wie (pasukan pengawal kerajaan bersulam emas).

Namun yang lebih mengherankan si maling tidak mengambil barang-barang berharga seperti pedang pusaka, perhiasan emas dan berlian yang biasa di pakai putri-putri istana. Ia hanya mengambil sebuah lukisan bergambar pemandangan gunung di waktu musim salju. Memang lukisan itu cukup berharga karena merupakan hadiah dari Khan Agung kerajaan Mongolia sebagai tanda persahabatan.

Dengan adanya peristiwa ini penjagaan istana semakin diperketat dan pintu gerbang kota raja juga di jaga ketat. Setiap orang yang hendak keluar kota raja di periksa bawaannya.
“Entah siapa gerangan orang yang berani mati mencuri di istana kerajaan, sedangkan yang dicuri hanya sebuah lukisan” kata Lie Kun Liong.
“Pasti seorang jago kosen kangouw dan memiliki peta keadaan istana yang mampu melakukan pencurian itu” kata Bai Mu An.
“Berarti ia pasti bekerjasama dengan orang dalam untuk mendapatkan gambaran keadaan istana, kapan waktu pergantian penjagaan, siapa yang sedang memimpin penjagaan” kata Lie Kun Liong.
“Kabarnya Tong-leng (pemimpin Gie-lim-kun) – Sun Kai Shek yang berjuluk Kip-hong-kiam (si pedang angin lesus) sedang cuti pulang ke kampung halaman, sedangkan Ciong-cie-hui (pemimpin Kim-mie-wie) – Sim Ok Ciang yang berjuluk Kim-gak-tiau (si rajawali bermata emas) malam itu sedang dipanggil Hong-siang (Kaisar)” kata Bai Mu An. Si pencuri memilih saat yang sangat tepat dalam melakukan aksinya.
“Bagaimana dengan ilmu silat kedua pemimpin itu” tanya Lie Kun Liong.
“Termasuk kelas wahid dalam dunia kangouw. Tong-leng Sun Kai Shek merupakan sute (adik seperguruan) dari ketua Hoa-san-pay saat ini. Ilmu pedangnya Hong-kui-liu-in (angin lesus membuyarkan awan) sangat lihai dan entah sudah berapa banyak korban yang mati di bawah ujung pedangnya. Ia sudah belasan tahun menjadi pemimpin nomor satu di pasukan Gie-lim-kun.

Kalau Ciong-cie-hui Sim Ok Ciang terkenal dengan ilmu silatnya Pek-pian-yu-tui (tendangan seratus gaya) merupakan jago kosen yang sudah malang melintang di dunia kangouw puluhan tahun sebelum menjabat Ciong-cie-hui beberapa tahun yang lalu. Aku rasa tidak gampang bagi si pencuri mengaduk-aduk gudang pusaka istana bila ke dua orang ini sedang bertugas” kata Bai Mu An.
“Menurut perkiraan Bai-heng siapa gerangan pencuri itu” kata Lie Kun Liong.
“Susah diperkirakan, banyak orang kosen di kalangan Liok-lim (kalangan penjahat / rimba hijau). Di samping itu belum tentu pencuri tersebut dari kalangan Liok-lim bisa juga dari kalangan Bu-lim (rimba persilatan)” sahut Bai Mu An.
“Pengetahuan Bai-heng tentang dunia kangouw luas sekali, kalau aku boleh tahu siapa saja jago kosen dari kalangan Liok-lim” tanya Lie Kun Liong.

“Ada Kwi-eng-cu (si bayangan iblis) yang terkenal dengan ilmu ginkangnya, lalu Cap-sah-thian-mo (13 iblis besar) susah dilayani, Bwe-hoa-cat (penjahat bertanda bunga bwe) seorang jai-ho-cat (penjahat pemetik bunga) yang selalu membunuh korban-korbannya setelah selesai diperkosa. Kemudian Jian-jiu-lo-sat (si hantu wanita bertangan seribu) yang terkenal akan kelihaiannya ilmu mencurinya. Mereka-mereka inilah sedang naik daun di kalangan liok-lim.
Untuk angkatan tuanya Lie-heng harus hati-hati bila bertemu dengan Bu-eng-cu (si tanpa bayangan), Pian-mo (setan cambuk), Tok-tang-lang (si belalang berbisa) dan Kim-mo-siankouw (dewi berambut emas) yang terkenal akan kejalangannya terhadap pemuda-pemuda tampan” kata Bai Mu An.

“Bai-heng tahu dimana tempat tinggal Tok-tang-lang” tanya Lie Kun Liong. Ternyata ia masih ingat dengan nama julukan susioknya Tan Kin Hong yaitu si belalang berbisa. Ia ingin menemui susioknya itu dan menyampaikan pesan-pesan gurunya.
“Aku tidak tahu, mereka ini sudah puluhan tahun di dunia kangouw dan sudah jarang berkecimpung di dunia persilatan. Apakah Lie-heng ada persoalan dendam kesumat dengan Tok-tang-lang” tanya Bai Mu An ingin tahu.
“Ya benar” kata Lie Kun Liong singkat. Ia tidak ingin Bai Mu An tahu persoalan intern perguruannya diketahui orang luar.

Hari sudah sore matahari perlahan-lahan mulai terbenam dan tahu-tahu malam telah tiba, mereka kembali ke penginapan untuk beristirahat.

Malam yang sunyi dan kelam. Bulan pucat menggantung di langit beberapa bintang tak bosan berkedip. Cahaya bulan menolong memberikan pemandangan malam yang tidak begitu gelap. Kadang terdengar teriakan panjang dari lorong entah di mana menggemakan gaung malam. Tersentak sadar dalam samadhi oleh suara lirih pejalan malam di atas genteng kamarnya, Lie Kun Liong merasa heran akan kelihaian orang tersebut. Bila ia tidak dalam keadaan sedang melatih lweekang pasti ia tidak akan mendengar sama sekali.

Jelas seorang jago kosen sedang berkeliaran di luar sana. Dengan hati-hati ia melompat keluar ke atas genteng penginapan dan mengikuti bayangan orang yang masih nampak di kejauhan sebelum menghilang di balik bangunan.
Dengan mengembangkan ilmu teng-peng-touw-sui (menginjak rumput mnyebrang sungai) ia dengan sebat mengikuti bayangan itu dengan penuh perhatian. Rupanya bayangan itu menuju ke pintu keluar gerbang kota, dengan ilmu pek-houw-yu-ciang (cecak merayap di tembok) bayangan itu menaiki tembok dan dengan cepat keluar dari kota raja. Tak seorangpun prajurit di sekitar tembok itu menyadari ada orang yang keluar dari kota raja dengan diam-diam.
Dengan ketat Lie Kun Liong mengikuti bayangan itu, syukur baginya malam sedang gelap-gelapnya hingga ia tidak konangan oleh orang itu. Sekeluarnya dari kota raja, bayangan itu mengembangkan ginkangnya seluas-luasnya. Dengan susah payah Lie Kun Liong mengikuti orang itu, ia sangat kagum akan ilmu mengentengkan tubuh bayangan itu, hanya dengan mengerahkan seluruh kemampuannya baru ia dapat mengimbangi lari orang itu.

Setelah berlari selama seperminuman teh, mereka tiba di sebuah bangunan. Ternyata bangunan itu adalah sebuah kelenteng yang sudah rusak dan tak berpenghuni. Bayangan itu memasuki kelenteng dan menghilang ke dalam. Lie Kun Liong ragu-ragu untuk mengikutinya, ia khawatir di dalam kelenteng sudah ada orang yang menunggu si bayangan itu dan melihat ada orang yang mengikuti bayangan itu.

Sekonyong-konyong ia mendengar suara jeritan berkumandang dari dalam kelenteng itu. Dengan mengambil resiko ketahuan Lie Kun Liong melayang ke atas atap kelenteng dan mengintip ke dalam ruangan di mana bayangan tadi masuk. Ruangan itu gelap sekali tiada sinar lilin, hanya dengan mengandalkan sinar rembulan ang menerobos jendela yang terbuka dan mata yang tajam Lie Kun Liong meneliti sekitar ruangan itu. Di sudut ruangan, bayangan yang ia kejar tadi terbaring telungkup.

Gelagatnya teriakan tadi berasal darinya, ada orang yang membokong dan melukainya. Lie Kun Liong dengan sabar menanti sambil berharap orang yang membokong bayangan itu segera menampakkan diri. Tapi tungu punya tunggu tidak tampak sesosok bayanganpun yang keluar dari kelenteng sehingga dengan hati-hati ia melayang turun ke dalam ruangan dan mendekati orang yang terbaring telungkup itu.

Sebatang pisau menancap di balik punggungnya menembus ke bagian dada, darah segar mengalir di sekitar tubuhnya. Sambil membalik tubuh orang itu, Lie Kun Liong memeriksa nadi orang tua – nadinya masih berdenyut lemah sekali, ia belum mati. Lie Kun Liong menyalurkan tenaga dalam ke badan orang itu. Tidak berapa lama orang itu sadar sambil meringis kesakitan. Lie Kun Liong sadar orang itu tidak dapat diselamatkan lagi, lukanya sudah terlalu parah. Ia hanya berusaha menyadarkan orang itu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Dengan mata sayu orang itu menatap Lie Kun Liong dan berkata “Sii..apa anda” tanyanya dengan bersusah payah.
“Aku kebetulan lewat dan mendengar suara jeritan di dalam kelenteng” kata Lie Kun Liong.
“Paman siapa dan mengapa sampai terluka begini”
Dengan kecut orang itu meringgis kesakitan dan berkata “Aku berjuluk Maling Sakti dan orang yang memasuki gudang pusaka istana kemarin malam. Orang yang melukai aku adalah orang yang memberi tugas untk mencuri lukisan pemandangan. Ini tidak pernah aku sangka sama sekali ia begitu tega berusaha membunuh aku untuk menutup mulut”.

Dengan tersenggal-senggal ia merogoh baju dan mengeluarkan sebuah kalung giok berwarna hijau dan menyodorkannya ke tangan Lie Kun Liong sambil berkata dengan susah payah “Ca..ari Siau Erl di rumah pelesiran “Bunga Merah” di kota raja dan berikan kalung ini untuk tukar dengan lukisan yang asli. Lukisan yang aku bawa tadi palsu” Mengingat ia berhasil menipu orang yang telah menyuruhnya mencuri lukisan, terbayang rasa puas di wajahnya. Sesudah mengatakan kalimat itu, orang itu mati dengan mata terbelalak seolah-olah tidak rela meninggalkan dunia ini.
Dengan menghela nafas gegetun Lie Kun Long menyimpan kalung giok yang kelihatan sangat mahal itu ke dalam saku bajunya, ternyata dunia kangouw ini kejam dan penuh dengan tipu muslihat.

Next : Pendekar cinta - Jilid 8

Pendekar Cinta - Jilid 6

Jilid 6. Si Pedang Kilat

Suatu ketika ia sampai di daerah pegunungan di pinggir tanah cekung wilayah Sichuan dengan hamparan tanaman teh seperti karpet tebal berwarna hijau. Semilir udara segar pegunungan berhembus pelan hingga daun-daun teh bergoyang seirama. Siang itu, terik matahari sepertinya malu-malu membakar bumi karena terhalang awan dan pepohonan. Rasa lelah dan penat karena seharian menunggang kuda sepertinya tak terasa. Badan menjadi segar dan pikiran pun terasa lapang.
Di kebun teh itu tampak para wanita pemetik teh yang rajin sedang sibuk memetik daun teh sambil menyanyikan lagu memetik daun teh, lagu yang mereka nyanyikan turun temurun. Kesemua itu membentuk gambaran kehidupan petani yang indah di Sichuan bagian barat.

Terlihat serombongan anak-anak dengan baju berwarna-warni menari, berkejaran menikmati suasana panen teh dengan mengejar kupu-kupu. Menurut legenda, seorang petani obat pada jaman Dinasti Han Barat, Wu Lizhen yang pertama kali menanam pohon teh di gunung ini, ia menanam 7 batang pohon itu di gunung tersebut. Konon ketujuh pohon teh itu masih tetap subur meski telah berusia ribuan tahun, dan setiap tahun tumbuh daun teh muda yang sempit dan panjang serta sangat sedap rasanya. Ketujuh pohon teh itu oleh masyarakat setempat dinamakan Teh Dewata.

Di sebelah kiri kebun teh itu terdapat sebuah warung teh bagi para pelancong yang ingin menikmati secangkir teh segar. Sambil menunggang kudanya perlahan-lahan Lie Kun Liong menyusuri pegunungan itu melalui jalan tanjakan berbatu menuju warung teh itu. Sambil menunggu teh yang di pesan datang, ia menyaksikan pemilik warung yang sibuk mengolah daun teh. Dengan cara yang sangat tradisional, si pemilik warung menggoreng daun teh di wajan dengan tangan, daun teh yang hijau dengan cepat berubah menjadi kuning muda dan menyebarkan harum yang sedap dan segar.

Di sekitar warung teh terdapat belasan pohon ginko kuno yang tumbuh subur. Duduk di kursi bambu, mereguk minuman teh yang sedap dan segar di bawah pohon sambil melepas pandang ke gunung yang jauh, Lie Kun Liong bisa merasakan ketenangan yang syahdu. Selagi menikmati teh dalam suasana alam yang indah dan tenang, kupingnya yang tajam mendengar suara denting beradunya pedang di kejauhan. Pada mulanya ia malas untuk mencampuri pertikaian dunia persilatan namun dari bunyi beradunya pedang tersebut ia dapat membedakan pihak yang sedang bertempur merupakan jago-jago kosen. Tertarik hatinya untuk melihat jalannya pertempuran itu, segera ia mengembangkan ginkangnya ke arah suara tadi.

Ternyata di belakang perkebunan teh itu terdapat terdapat hutan bambu. Semilir angin yang menerabas pepohonan bambu di sekitarnya mengalirkan keteduhan. Di bawah rindangnya pepohonan bambu, seorang pemuda sedang bertanding dengan seru melawan seorang nenek tua berusia enam puluh tahunan. Walupun kelihatannya lemah dan tua tapi gerakan si nenek sangat lincah tidak kalah lihainya dengan si anak muda.

Pedang di tangan pemuda itu berkelabat bagaikan kilat menyambar ke sana kemari mengincar tubuh tua si nenek. Pemuda itu berusia sebaya dengannya, wajahnya cukup tampan dan sedikit jumawa, pakaian yang dikenakannya terbuat dari bahan berkualitas berwana hijau muda. Gerak-geriknya sangat sebat dan menguasai ilmu pedang yang sangat tinggi. Gerakan ilmu pedang pemuda ini sangat mengandalkan kecepatan dan ketajaman bilah pedang. Gaya pedang yang dimainkannya sangat tidak mengenal ampun, semua serangan dilakukan dengan sepenuh hati seolah-olah ia menyerahkan seluruh jiwanya ke dalam pedang, sangat mengiriskan hati. Selama berkelana di dunia persilatan beberapa bulan ini, pemuda inilah yang menurut hasil pengamatannya memiliki ilmu pedang yang tidak kalah dengan ilmu pedangnya.

Lie Kun Liong tidak yakin apakah ia sanggup mengalahkan ilmu pedang si pemuda itu dengan ilmu pedang perguruannya. Entah persoalan apa yang terjadi diantara mereka hingga melangsungkan pertempuran mati hidup di hutan bambu ini pikir Lie Kun Liong. Ia tidak berani mencampuri sebelum jelas duduk persoalannya walaupun ia bersimpati kepada si nenek tua yang terus bertahan dengan gigih terhadap setiap serangan si pemuda itu. Sambil bersembunyi di balik rerimbunan pohon bambu ia mengamati jalannya pertandingan dengan serius untuk menambah pengetahuannya. Dengan sekilas saja ia sudah mampu mengingat setiap gerakan-gerakan yang hebat dari kedua orang tersebut, memang gurunya sering memujinya memiliki bakat dan ingatan yang sangat baik.
Setelah beberapa puluh jurus kemudian terlihat si nenek mulai agak keteteran tapi ia tetap bertahan sekuatnya. Ilmu si nenek sebenarnya sangat lihai, terbukti ia mampu melayani si pemuda ini tanpa terdesak. Kelemahan si nenek adalah usianya, keuletannya kalah sama yang muda. Yang satu sedang dalam kondisi puncak kemudaannya sedangkan yang lain sedang dalam kondisi menurun di usia tua. Kedua orang itu sudah mengucurkan keringat di dahi masing-masing, tanda-tanda kelelahan tampak di wajah keduanya. Siapapun yang menang pasti tidak mudah diperoleh dan memerlukan pengorbanan tenaga yang banyak. Naga-naganya tidak berapa lama lagi menang kalah dapat segera di tentukan.
Lie Kun Liong merasa serba salah, ia kasihan sama si nenek tapi ia belum tahu masalah yang terjadi, takut terjadi kesalahpahaman.

Akhirnya ia memutuskan untuk menampakkan diri sambil berharap dengan kedatangannya kedua orang ini berhenti berkelahi hingga ia bisa menanyakan duduk persoalan sebenarnya.
Harapan tinggal harapan, mereka yang sedang bertempur tidak berhenti sekalipun mereka tahu kedatangan Lie Kun Liong bahkan jurus-jurus yang dimainkan semakin ganas.

Suatu ketika ujung pedang si pemuda berhasil menuai sukses mendekati tubuh lawan serta memecah hawa chi si nenek mengakibatkan lobang darah di bagian pundak si nenek. Dengan cepat darah mengucur keluar dan gerakan si nenek yang lincah mulai berkurang terpengaruh oleh lukanya. Si pemuda tidak melewatkan waktu sedetikpun, ia terus melancarkan rangkaian serangan mematikan.

Sadar akan bahaya yang dihadapinya, si nenek mengeluarkan segenap kemampuan yang tersisa mendesak mundur si pemuda beberapa langkah sambil melemparkan am gie (senjata rahasia) berbentuk bintang segi lima yang sangat tajam dan terbuat dari logam. Selagi pemuda itu sibuk menangkis senjata rahasia, si nenek melompat mundur dan melarikan diri ke arah Lie Kun Liong sambil berteriak “Anak Kin, serang pemuda itu” dan menghilang di balik hutan bambu.
Lie Kun Liong melongo memandang belakang tubuh si nenek, mendengar kata-kata nenek itu ia tidak mengerti. Namun belum sempat ia berbalik, terdengar siur sambaran pedang sudah berada dekat punggungnya. Dengan mengerahkan segenap kemampuan yang ia miliki, ia berhasil menghindarkan diri dari serangan itu. Ternyata ia diserang oleh si pemuda yang menyangka Lie Kun Liong sebagai murid atau cucu si nenek.

“Eh nanti dulu looheng” kata Lie Kun Liong sambil sibuk menghindarkan diri dari serangan ganas si pemuda. “Aku bukan siapa-siapa nenek itu” kata Lie Kun Liong buru-buru.
Tapi si pemuda itu tidak mau mendengarkan kata-kata Lie Kun Liong sedikitpun, ia terus membombardir Lie Kun Liong dengan jurus-jurus mematikan. Terpaksa Lie Kun Liong menghadapi si pemuda dengan penuh perhatian sebab kalau lengah sedikit, tubuhnya akan bolong tertembus ujung pedang si pemuda.

Lie Kun Liong mengumpat dalam hati akan kesembronoan si pemuda itu, dengan susah payah ia melayani si pemuda dengan tangan kosong. Tiada kesempatan baginya untuk mencabut pedang yang berada di punggungnya. Untungnya ia sudah sempat sedikit menyelami gaya ilmu pedang si pemuda tadi hingga sedikit banyak ia masih bisa mengelak ke sana ke mari, lalu sambil melancarkan pukulan yang disertai hawa lwekang, ia mencabut pedangnya untuk mempertahankan diri lebih sempurna.
Awalnya ia hanya mencoba mempertahankan diri sambil mencari kesempatan untuk berbicara menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi namun serangan-serangan si pemuda sangat ganas dan mematikan hingga ia sebagai pemuda yang masih berdarah panas menjadi marah dan mulai membalas serangan si pemuda itu.

Terjadilah pertarungan yang jarang terjadi di dunia persilatan antara dua jago pedang yang sama-sama masih muda dan bersemangat. Bagi keduanya ternyata pertarungan ini merupakan pertarungan yang paling sengit yang pernah mereka hadapi selama berkecimpung di dunia kangouw. Pedang yang mereka miliki sama-sama pedang pusaka dan sudah menyatu dengan jiwa raga mereka. Saling serangpun berlangsung dengan seru, masing-masing pihak mengeluarkan seantero kemampuannya untuk mengalahkan lawan.

Kalau gerakan pedang si pemuda itu secepat kilat, gerakan pedang Lie Kun Liong tidak kalah mantapnya. Kecepatan di hadapi dengan kemantapan. Sayang tidak ada yang menyaksikan pertarungan kelas wahid ini. Suatu saat keduanya melancarkan serangan pedang yang mengakibatkan bentrokan yang sangat keras sehingga pedang di tangan mereka masing-masin terlontar ke atas terlepas dari pegangan masing-masing. Dari situ dapat diketahui keduanya memiliki lwekang yang setingkat.

Sebenarnya kalau mau selagi pedangnya terlontar ke udara, Lie Kun Liong bisa mengendalikan pedang dan untuk digunakan menyerang kembali si pemuda yang telah kehilangan pedangnya dengan ilmu pedang terbang. Tapi ia masih sadar ini kesempatan baik untuk menjelaskan salah paham ini.

“Harap dengarkan kata-kata aku loheng, aku tidak mengenal nenek itu sama sekali, aku hanya kebetulan lewat di sini” kata Lie Kun Liong buru-buru takut si pemuda ia masih gelap mata dan menyerangnya membabi buta.Pemuda itu tertegun sebentar, lalu menyadari bahwa murid ataupun cucu si nenek itu tidak mungkin memiliki ilmu pedang yang selihai ini bahkan lebih lihai dari si nenek.
“Tapi aku dengar sendiri Hui Thian Mo Lie (Hantu permpuan terbang ke langit) itu menyebutmu anak Kin” kata pemuda itu ragu-ragu.
“Aku juga tidak mengerti mengapa nenek itu memanggil aku begitu, mungkin dalam keadaan terdesak ia mau melemparkan beban ke aku untuk meloloskan diri” kata Lie Kun Liong penasaran.
“Rasanya memang itu tujuannya, untung engkau menjelaskan kalau tidak aku bisa salah membunuh orang tak bersalah” kata si pemuda seolah-olah yakin sekali Lie Kun Liong pasti akan kalah bila pertandingan diteruskan.

Sambil tersenyum tawar Lie Kun Liong bertanya “Ada sengketa apa antara loheng dengan nenek itu” Ia sedikit tidak suka akan kejumawaan si pemuda itu.
“Hui Thian Mo Lie itu adalah pembunuh keluarga misan aku, sudah lama aku memburunya dan tempat ini akhirnya bisa menyandaknya. Sayang ia lolos kali ini tapi lain kali jangan harap dia seberuntung ini” kata pemuda itu dengan lagak sombongnya.
“Maaf kalau kemunculan aku tadi menganggu rencana balas dendam loheng” kata Lie Kun Liong
“Tidak apa-apa, bukan salah loheng. Oh ya aku Bai Mu An, siapa nama loheng” tanya pemuda yang bernama Bai Mu An itu.
“Rupanya Bai-heng yang terkenal dengan julukan si Pedang Kilat” kata Lie Kun Liong kaget.
“Tidak berani, teman-teman persilatan yang memberi julukan itu” kata Bai Mu An, namun tidak mampu menyembunyikan rasa bangga diwajahnya.
“Nama aku Lie Kun Liong, kebetulan sedang berkelana di sekitar sini” kata Lie Kun Liong diam-diam tertawa dalam hati melihat kejumawaan Bai Mu An.
“Lie-heng hendak kemana” tanya Bai Mu An.
“Aku mau pergi ke Nanking, sudah lama dengar akan kemegahan kota raja” jawab Lie Kun Liong.

Sebenarnya ia berharap dapat berjumpa dengan Liok Han Ki di sana karena ia ingat akan pembicaraan mereka dulu. Entah mengapa sejak ia secara tidak sengaja membuka penyamaran Liok Han Ki yang ternyata adalah seorang dara bahkan melihat buah dada seorang gadis perawan untuk pertamakalinya, wajah Liok Han Ki selalu terbayang-bayang dalam benaknya.
“Kebetulan aku juga hendak ke kota raja mencari teman” kata Bai Mu An. “Bagaimana kalau kita berdua berjalan bersama?” tanya Bai Mu An. Ia merasa cocok dengan Lie Kun Liong yang rendah hati.
“Boleh, kebetulan aku sendirian. Ditemani Bai-heng yang berpengalaman membuat aku senang” jawab Lie Kun Liong.

Nantikan selanjutnya di Pendekar Cinta - Jilid 7